Indonesia Adalah Negara Agraris yang Terancam. Profesi Petani Diperkirakan Akan Punah 50 Tahun Lagi

Sudah jadi sebuah rahasia umum, Indonesia kian berkembang di tengah arus modernisasi.

Resep pempek tanpa ikan tapi tetap sedap

Ingin bikin pempek tapi nggak punya bahan ikan di rumah?

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Tampilkan postingan dengan label bisnis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bisnis. Tampilkan semua postingan

Kamis, 18 Januari 2018

Penulis Harus Mau Jadi Marketing Bukunya, Kenapa?

image_title
“Nulis buku itu susah, Mbak. Kenapa harus pakai belajar jualan buku lagi?”
Hiks, benar. Itu perkataan yang benar. Dulu saya juga berpikir seperti itu. Nulis buku itu susah. Susahnya setengah mati, apalagi kalau menulis tidak ingin menulis asal saja, dan berjuang dengan riset. Maka setelah buku selesai ditulis, lalu penerbit mau menerima, rasanya plong yang ada di hati.
Lega. Iya, lega selega-seleganya.
Kita berharap, sih, sama seperti penulis di luar negeri yang jadi rujukan kita. Bisa plesiran ke mana saja, setelah bukunya selesai dicetak.
Kita mulai membandingkan kenikmatan, tapi tidak berjuang menuju satu titik kualitas yang sama.

Dulu Bukan Sekarang
Dulu, pada zaman kita belum diserbu tekhnologi, dan ketika tidak semua orang paham dunia menulis, menulis adalah sebuah bentuk ekspresi yang menyenangkan. Pengalaman dan isi hati kita, bisa bebas kita tulis, tanpa kita dituntut kelihatan identitasnya.
Maka biasanya para penulis yang muncul dari masa lalu, adalah penulis yang kebanyakan pemalu dan takut muncul di publik, termasuk saya.
Tapi dulu bukan sekarang.
Dulu media cetak masih jadi andalan. Telepon genggam ada tapi yang memiliki hanya segelintir orang saja. Untuk mendapatkan nomor pun, harus antri panjang. 16 tahun yang lalu nomor saya, saya beli seharga 250 ribu rupiah.
Dulu, para remaja menunggu media remaja, para orangtua menunggu harian dan para ibu menunggu tabloid. Semua sumber bacaan dari media cetak. Ada masa di mana pada sore hari, kalau di keluarga saya, kita akan berkumpul, dan masing-masing membawa bacaannya, lalu keluarlah banyak sekali perbincangan dari apa yang kita baca.
Sekarang?
Sekarang perbincangan dan diskusi banyak diambil dari berita-berita pendek dari timeline dan status orang lain. Saya masih berjuang mengambil buku untuk dibawa ke ajang diskusi dengan anak-anak dan pasangan. Dan sungguh, itu terasa melelahkan.
Karena itu, saya minta ada satu hari untuk anak-anak fokus membaca dan menulis yaitu di hari Sabtu.
Kondisi sekarang berbeda.
Media cetak satu persatu gugur. Karena industri mulai berpihak ke dunia digital, yang setiap individu memegang minimal satu.
Saya ingat perbincangan dua tahun yang lalu, ketika pemilik majalah Luar Biasa seorang motivator ingin menutup majalah. Ada satu pendapat dari seorang agen majalah yang sudah puluhan tahun berada di bidang tersebut. Beliau bilang kondisi memang seperti itu. Satu persatu kios media ditutup dan diganti dengan kios pulsa. Maka bisnis yang menjamur adalah bisnis pulsa.
Penerbit?
Penerbit masih ada. Tapi penerbit tidak mungkin menerbitkan sebuah naskah, tanpa proyeksi pada keuntungan. Untuk buku-buku yang kira-kira agak sulit untuk diterbitkan, semisal buku non fiksi dengan ukuran tebal, ada penerbit yang bertanya lebih dahulu, penulis bisa membeli berapa buku nanti jika buku itu terbit?
Seram pertanyaan itu?
Iya seram sekali untuk saya pertama kali. Meskipun tanpa ditanyai seperti itu, saya biasa membeli buku dari penerbit hingga 100 buku untuk dijual kembali. Kebetulan saya punya marketing sendiri, yang memasarkan dari satu sekolah ke sekolah lain.
Tapi ya itu. Saya tidak berani memasang target, takut target itu meleset jauh.
Belum lama ketika ada naskah yang di acc, saya juga ditanya, berani beli berapa buku? Dengan keyakinan penuh, saya bilang saya bisa beli 100 buku.
Kenapa saya berani?
Satu buku saya, saya endapkan cukukp lama. Lama sekali. Saya riset lama, lama sekali. Lalu ketika di acc penerbit, ternyata komunikasi lancar. Saya melihat proses bukunya, dan akhirnya saya jatuh cinta. Proses jatuh cinta, itu jadi semakin cinta ketika melihat hasilnya. Sebuah buku yang memang sesuai dengan apa yang ada di otak saya. Design huruf, warna buku dan tampilan covernya memang benar-benar sesuai yang saya inginkan.
Ketika sampai pada proses akhirnya buku itu sudah dicetak dan saya pegang, saya bertambah cinta. Melihat satu persatu halamannya, saya semakin cinta.
Dan saya memang berjuang menjual buku itu, baik secara online maupun secara offline. Target 100 buku akhirnya bisa saya penuhi, dan sampai sekarang saya terus memesan ke penerbit buku itu, karena ada teman-teman yang masih menanyakan buku itu.
Buku hasil jerih payah dan keringat saya, kenapa saya mesti malu menjualnya? Apalagi kiri kanan atas bawah, kita digempur oleh buku yang lain yang bisa jadi lebih merusak moral anak-anak kita.
Tekhniknya Pembelian Buku Seperti Apa?
“Tapi, Mbak, aku enggak punya uang untuk beli buku aku?”
Ada pertanyaan seperti itu.
Oh, membeli 100 buku langsung juga tidak saya lakukan. Tapi step by step saya melakukannya.
1. Untuk penerbit yang memberikan DP royalti, maka biasanya, saya tidak ambil uang DP itu. Saya minta agar uang itu diputar dalam bentuk buku.
Bukunya datang, bisa saya jual.
2. Untuk penerbit yang tidak pakai DP, saya membelinya pelan-pelan. Misalnya 20 buku dulu. Setelah 20 buku itu laku, uangnya saya putar lagi, untuk membeli buku yang lain.
3. Ada juga penerbit yang membolehkan membeli buku, dengan dipotong uang royalti kita nanti. Nah itu juga sangat memudahkan penulis yang tidak pegang uang cash pada saat itu.
Tidak akan rugi kok kita membeli buku kita sendiri.
Dari situ kita akhirnya bisa menyortir, buku apa yang harus kita tulis, sehingga kita bisa mempertanggungjawabkan isinya di mata pembaca dan di mata Allah kelak.

Soal Impor Beras: DPR Desak Penyelidikan Kinerja BULOG

Soal Impor Beras: DPR Desak Penyelidikan Kinerja BULOG
Anggota Komisi VI DPR Fraksi PDIP Rieke Diah Pitaloka menunjukkan tulisan tolak impor beras saat mengikuti Rapat Kerja dengan Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita dan Direktur Utama Perum Bulog Djarot Kusumayakti di kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (18/1/2018). ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan


Anggota Komisi VI DPR, Rieke Diah Pitaloka menentang rencana impor beras sebanyak 500 ribu ton menjelang panen raya antara Februari-Maret 2018 mendatang. 

Rieke berpendapat, BULOG terbukti gagal menyerap produksi beras dari petani. Ia menyatakan, sepanjang Januari-Desember 2017, realisasi serapan BULOG turun sebesar 27 persen dibandingkan 2016, yakni sebesar 2,16 juta ton.

“Pada saat panen raya idealnya hampir terserap 70 persen, namun realisasinya masih 42 persen. Persoalannya adalah daya serap BULOG minim, kalau serap segitu berarti ada yang tidak terserap,” kata Rieke di Jakarta, Kamis (18/1/2018).

Selama ini, kata dia, ketersediaan beras masih berada di tingkat petani dan pedagang karena BULOG tidak optimal dalam menyerap produksi beras. Ia mendesak perlu adanya penyelidikan kinerja BULOG.


Tidak hanya pada kemampuan menyerap, manajemen keuangan BULOG juga dianggap Rieke bermasalah, sehingga BULOG harus diaudit secara keuangan dan manajemen.

“Subdivre Semarang terjadi penyelewengan beras dengan kerugian Rp6,3 miliar, mantan kepala BULOG baru Semarang korupsi kasus stok beras, juru timbang gudang BULOG Semarang gelapkan Rp6 miliar, kepala BULOG Lahat oplos beras. Bahkan Djarot, Direktur Utama BULOG sebagai saksi suap kasus penambahan kuota gula impor,” kata Rieke. 

Ia juga menyebutkan sejak 2015 hingga sekarang BULOG belum memberikan deviden kepada negara. Padahal, setiap tahunnya BULOG mendapatkan anggaran Penyertaan Modal Negara (PMN).


PMN pada 2015 sebesar Rp3 triliun, kemudian pada 2016 hingga 2018 BULOG menerima PMN sebesar Rp2 triliun. 

“BULOG mengakusisi 70 persen saham PT Gendis Manis Rp77 miliar, dan mempunyai tanggungan BRI Rp885,4 miliar dengan indikasi pembelian adanya persoalan-persolan serius. Jadi, betul kalau BULOG tidak punya uang karena sampai sekarang enggak ngasih dividen,” ungkapnya.

Selain persoalan korporasi BULOG, Rieke kemudian menyebutkan bahwa waktu target masuknya beras impor tidak relevan. Ia memperhitungkan impor masuk sekitar 1-2 bulan. 

“Artinya keluarnya Februari, Maret, April. Kalau diputuskan oke impor beras, beras dateng seminggu, berarti ada kongkalingkong. Kalau ditentukan impor saat ini, tidak ujuk-ujuk dateng saat ini juga,” lontarnya. 
sumber

BI Sebut Kenaikan Harga Beras Bisa Kerek Inflasi di Awal 2018

BI Sebut Kenaikan Harga Beras Bisa Kerek Inflasi di Awal 2018
Bank Indonesia (BI) menilai kenaikan harga beras dan sejumlah komoditas hortikultura berpotensi membuat inflasi terkerek selama Januari 2018. 

Karena itu, Asisten Gubernur Kepala Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI Dody Budi Waluyo mengatakan pemerintah harus memastikan ketersediaan stok pangan yang memadai. 

"Tekanan dari harga pangan perlu diwaspadai," ujar Dody di Jakarta pada Kamis (18/1/2018) seperti dikutip Antara.

Dia menambahkan, untuk mencegah angka inflasi melambung, koordinasi antara BI, pemerintah pusat dan pemerintah daerah dalam pengendalian harga komoditas pangan harus ditingkatkan. Koordinasi itu sekaligus untuk memastikan produksi dan distribusi komoditas pangan ini memenuhi kebutuhan masyarakat. 

Dody mengatakan faktor ketersediaan stok barang pangan dan kelancaran distribusi menjadi tantangan yang harus segera diselesaikan oleh pemerintah pada awal 2018.

Sementara berdasarkan survei pemantauan harga yang dilakukan oleh BI hingga pekan kedua 2018, inflasi tahunan pada Januari 2018 sebesar 3,2 persen. Bank Sentral menargetkan laju inflasi sepanjang 2018 berada pada kisaran 2,5-4,5 persen, setelah inflasi pada 2017 sebesar 3,61 persen (yoy).

Sedangkan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan pergerakan harga beras, yang cenderung naik, telah menjadi fokus perhatian pemerintah sejak akhir tahun lalu. Karena itu, pemerintah melakukan berbagai upaya untuk menjaga pergerakan harga komoditas ini.


Sri Mulyani mengatakan Kementerian Keuangan siap berkoordinasi dengan Kementerian Perdagangan dan Kementerian Pertanian terkait tata kelola niaga agar harga beras stabil. Koordinasi juga dilakukan oleh Kemenkeu dengan BI sebagai otoritas moneter melalui pengendalian inflasi inti agar tidak memengaruhi inflasi nasional secara keseluruhan.

"Pemerintah melihat faktor-faktor yang bisa dipengaruhi melalui kebijakan, misalnya kebijakan impor beras dan kelancaran arus barang, sehingga inflasi bisa ditekan dan distabilkan pada level yang tetap terjaga rendah," ujarnya.

Pemerintah sudah berencana mengimpor sekitar 500 ribu ton beras pada akhir Januari 2018. Penugasan impor beras dan distribusinya, yang semula ditugaskan terhadap PT PPI, dialihkan ke Perum Bulog. Meskipun demikian, kebijakan impor ini menuai kritik karena berlangsung menjelang puncak panen padi di Indonesia. 

Badan Pusat Statistik (BPS) sudah mengumumkan beras merupakan komoditas kelima, setelah tarif listrik, biaya perpanjangan STNK, ikan segar dan bensin, yang dominan memengaruhi inflasi pada 2017. Meski demikian, harga beras yang tinggi pada November-Desember 2017 memberikan kontribusi yang signifikan pada tingkat inflasi nasional pada dua bulan terakhir 2017.

APBN 2018 menetapkan asumsi inflasi sebesar 3,5 persen, sedangkan tingkat inflasi nasional pada 2017 secara keseluruhan tercatat sebesar 3,61 persen. 

Selasa, 14 November 2017

ASEAN-Hong Kong Setujui Perjanjian Perdagangan Bebas

ASEAN-Hong Kong Setujui Perjanjian Perdagangan Bebas
Presiden Joko Widodo berpose bersama para pemimpin negara anggota ASEAN lainnya, di sela-sela pembukaan Konferensi Tingkat Tinggi KTT Ke-31 ASEAN di Philippine International Convention Center (PICC), Manila, Filipina, Senin (13/11/2017). REUTERS/Aaron Favi



Negara yang tergabung dalam keanggotaan ASEAN telah bersepakat dengan Hong Kong untuk memperkuat hubungan ekonomi ditandai dengan adanya penandatanganan Perjanjian Perdagangan Bebas ASEAN-Hong Kong, Cina (ASEAN-Hong Kong, Cina Free Trade Agreement/AHKFTA) serta Perjanjian Investasi ASEAN-Hong Kong (ASEAN-Hong Kong Investment Agreement/AHKIA). 

Penandatanganan Perjanjian Perdagangan Bebas dan Perjanjian Investasi tersebut dilakukan disela-sela rangkaian kegiatan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN ke-31, di Manila, Filipina, Senin (13/11/2017). 

Kedua kesepakatan tersebut adalah bentuk dari upaya berkelanjutan negara anggota ASEAN untuk memperluas hubungan ekonomi eksternal guna mendorong peluang perdagangan yang lebih besar bagi komunitas Ekonomi ASEAN. 

"Ini akan membuka lebih banyak peluang bagi ASEAN karena kita memastikan akses pasar yang lebih besar untuk produk kita dan aliran investasi asing langsung (FDI) yang berkelanjutan," kata Ketua Menteri Ekonomi ASEAN untuk 2017 Ramon Lopez
Lopez mengatakan bahwa kedua kesepakatan itu akan membuka kesempatan kerja bagi masyarakat ASEAN serta bertujuan untuk meningkatkan kolaborasi bisnis, utamanya pada sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). 

AHKFTA merupakan perjanjian perdagangan bebas ke-6 yang dilakukan ASEAN dengan mitra eksternal setelah perjanjian perdagangan bebas (Free Trade Agreement/FTA) dengan Korea Selatan, Jepang, India, Australia, dan Selandia Baru. 

Perjanjian perdagangan bebas ASEAN dengan para mitra eksternal itu mencakup perdagangan barang, peraturan dalam negeri, tindakan non-tarif, prosedur bea cukai dan fasilitasi perdagangan, solusi perdagangan, hambatan teknis untuk perdagangan, perdagangan jasa, hak kekayaan intelektual, serta kerja sama ekonomi dan teknis. 




Kesuksesan Alibaba "Menggarap" Para Jomblo Lewat Singles Day

Kesuksesan Alibaba "Menggarap" Para Jomblo Lewat Singles Day
Pekerja Cina memilah barang yang akan didistribusikan di sebuah pusat distribusi STO Ekspres, kota Wenzhou, Provinsi Zhejiang, Cina. [Foto/Chang kong - Imaginechina]



Jagad perdagangan daring di Indonesia sedang semarak dengan diskon. Ada yang menawarkan diskon hingga 90 persen, ada yang menawarkan bisa nego harga, ada yang menawarkan revolusi harga dengan diskon yang mengguncang. Mulai dari Lazada, JD.id, Bukalapak, hingga Shopee, semua berlomba-lomba menawarkan diskon yang menggiurkan kepada para konsumen.

Tawaran diskon yang fantastis itu dilakukan dalam rangka memperingati “Singles Day 11.11” setiap 11 November. Hari Belanja Online Cina itu rupanya ikut dirayakan secara meriah di Indonesia. Indonesia juga “Hari Belanja Online Nasional” atau Harbolnas yang diperingati setiap tanggal 12 Desember atau 12.12.

Para pemilik e-commerce Indonesia rupanya ikut membawa hingar-bingar SinglesDay di Cina, meski dalam konsep yang berbeda. Singles Day yang dibawa ke Indonesia ini masih berupa tawaran diskon besar-besaran. Ia menyerupai hari belanja di negara lain seperti Black Friday di Amerika.

Di Cina sendiri, Singles Day sudah bukan lagi diperingati sebagai “Hari Diskon Besar-besaran”. Singles Day digunakan sebagai upaya toko online untuk menjalin keterikatan dengan konsumen, sehingga mereka memiliki loyalitas. Konsep ini sudah berbeda dengan Black Friday atau hari belanja Amerika, yang umumnya hanya berupa pemberian diskon besar-besaran.

Singles Day sendiri awalnya merupakan salah satu hari untuk memperingati “kejombloan”. Mereka merayakan keseruan, termasuk dengan mentraktir diri mereka dengan berbelanja. Pada akhirnya, Singles Day berubah dari “Hari Merayakan Kejombloan” menjadi “Hari Belanja Nasional”.

Adalah Alibaba yang mulai berpromosi, menggaet para jomblo yang kesepian itu agar berbelanja pada tahun 2009. Strategi Alibaba berhasil karena kemudian ia meraih transaksi yang tidak kecil dari Singles Day. Publik bahkan sering menyebut Singles Day sebagai Alibaba Day. Meskipun, ada e-commerce lain juga yang menangguk keuntungan dari Singles Day ini.

Pada Singles Day tahun 2016, Alibaba berhasil meraup penjualan hingga $17,8 miliar hanya dalam 24 jam. Capaian itu meningkat hampir 25 persen jika dibandingkan transaksi yang diperoleh Alibaba dalam Singles Day tahun 2016. Perolehan Alibaba itu melebihi gabungan dari transaksi Black Friday, Prime Day Amazon, dan Cyber Monday.

Untuk 11.11 tahun 2017 ini, Alibaba kembali kembali membukukan transaksi yang sangat besar. Di awal pembukaan, Alibaba langsung meraup transaksi hingga $8,4 miliar. Transaksi langsung melesat jadi $10 miliar dalam 10 menit pertama. 

"Ini merupakan hari mahabesar untuk Alibaba," ujar Joe Tsai, executive vice chairman Alibaba, seperti dilansir dari Financial Times. 

Singles Day tahun ini akan diikuti 140.000 brand, 60.000 di antaranya merupakan brand internasional. Angka ini meningkat dibandingkan tahun lalu yang hanya 100.000 brand tahun lalu. Brand-brand global seperti Lululemon, Gap, Nike, dan Mac Cosmetics sudah menyatakan ingin ikut serta. Brand-brand ini akan memamerkan produk mereka kepada hampir setengah miliar konsumen Cina melalui platform e-commerce Cina.

Alibaba menggunakan Singles Day untuk menciptakan peluang bagi gerai-gerai membangun brand dan menjalin ikatan dengan konsumen. Inilah yang kemudian mendorong penjualan Alibaba melalui ikatan dengan konsumen pada periode waktu yang lebih panjang.

Keterikatan dengan konsumen dijalin melalui acara-acara yang cukup heboh. Para konsumen bisa menikmati fashion show, perayaan Gala 11.11 yang akan disiarkan secara live dan games interaktif yang berkaitan dengan ajang belanja itu. Perusahaan menggunakan festival itu untuk menciptakankesempatan baru bagi para gerai-gerai untuk membangun merek dan menciptakan keterikatan dengan konsumen. Alibaba menciptakan “brand experience” para perayaan 11.11.

Alibaba juga menggaet selebriti dunia untuk perayaan Singles Day untuk menyedot perhatian hingga dunia. Tahun lalu, mereka menampilkan legenda basket Kobe Bryant, dan juga pasangan sosialita David dan Victoria Beckham. Untuk tahun ini di Shanghai, rencananya akan menampilkan Maria Sharapova dan Pharrell Williams. Pada Singles Gala 11.11 kali ini, terlihat Nicole Kidman tampil bersama Jack Ma.

Singles Day akan menjadi tes pertama bagi strategi retail baru Alibaba, yang mengintegrasikan penjualan retail online dan offline, logistik dan lintas data melalui sebuah mata rantai tunggal. Melalui strategi itu, Alibaba ingin membawa digitalisasi ke dunia retail offline, yang kini menguasai 82 persen dari total penjualan retail di Cina.

Singles Day juga dimanfaatkan untuk membangun brand. Dua e-commerce terbesar Cina, Alibaba dan JD menggunakan momen 11.11 ini untuk membangun citra kemewahan. Alibaba melalui Tmall menggaet lebih banyak brand mewah, melalui fesyen show: See Now, Buy Now, yang sudah diluncurkan terlebih dahulu pada 31 Oktober, sebagai “pemanasan” untuk 11.11. Brand-brand mewah mulai dari Guerlain and Rimowa LVMH, MAC dari Estee’ Lauder, TAG Heuer sudah mempertontonkan desain terbaru mereka. Sementara JD menggunakan momen 11.11 untuk memperkenalkan portal e-commerce mewah independen, Toplife, yang akan menampilkan La Perla, Emporio Armani, dan Rimowa.

Pasar barang mewah di Cina memang memiliki peluang besar, karena menurut McKinsey, seperti dilansir dari Forbes, 7,6 juta rumah tangga Cina membelanjakan rata-rata 71.000 yuan atau sekitar $10.686 untuk barang mewah pada tahun lalu. Total pembelanjaan mencapai $7,5 miliar, atau sekitar sepertiga dari pasar barang mewah dunia.

Bagi Alibaba dan e-commerce Cina, perayaan Singles Day bukan sekadar menggelar diskon besar-besaran untuk mendongkrak penjualan. Mereka juga menjadi jalan untuk “mengikat” konsumen dengan brand-brand besar. Hasilnya sungguh tidak mengecewakan, setelah melihat capaian Alibaba dari Singles Day dalam beberapa tahun terakhir. Ikatan itu menciptakan loyalitas yang sangat menguntungkan untuk prospek Alibaba. 

Petani Digusur, Indonesia Darurat Agraria

Indonesia dikenal dengan sebutan negara agraris. Penyematan nama tersebut bukan tanpa alasan. Sebagian besar masyarakat Indonesia be...